Rabu, 14 Oktober 2026

Halaqah 25 | Simpul 20 – Menjaga Waktu untuk Ilmu

 

Halaqah 25 | Simpul 20 – Menjaga Waktu untuk Ilmu

Kitab: Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-25 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shālih Ibn Abdillāh Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullāhu ta’ala.

المعقد العشرون

Simpul yang ke-20

حفظ الوقت في العلم

menjaga waktu untuk ilmu, yaitu kita berusaha menggunakan waktu kita ini untuk ilmu.

Kalau kita memang menghormati ilmu dan itu adalah suatu yang besar di mata kita suatu yang berharga dan bernilai di hati kita maka kita berusaha setiap waktu yang kita gunakan ini ada hubungannya dengan ilmu.

قال ابن الجوزيِّ في صيد خاطره

Berkata Ibnul Jauzi rahimahullah di dalam kitab beliau Shaidul Khathir

ينبغي للإنسان أن يعرف شرف زمانه، وقدر وقته، فا يُضيِّع منه لحظةً في غير قُربةٍ، ويُقدِّم فيه الأفضل فالأفضل من القول والعمل

Sepantasnya bagi seseorang untuk mengetahui tentang betapa berharganya usianya dan betapa bernilainya waktu yang Allah berikan kepadanya, satu detik satu menit itu adalah sesuatu yang berharga, mungkin seseorang mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ kurang dari 1 menit tapi dia ucapkan itu di akhir hidupnya, selamat

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ

Barang siapa yang ucapan terakhirnya adalah لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ maka dia masuk ke dalam surga, padahal itu diucapkan kurang dari 1 menit.

Maka janganlah dia menyia-nyiakan sekejap pun dari usianya tadi dari umurnya tadi di dalam selain qurbah (ketaatan) kepada Allāh ﷻ, kalau bisa waktu semuanya ini detik-detik yang kita lalui ini semuanya adalah di dalam ketaatan kepada Allāh ﷻ, jangan sampai ada sedikit pun yang selain qurbah.

Dan dia mendahulukan mana yang lebih afdhal kemudian yang afdhal baik berupa ucapan maupun perbuatan, kalau memang di sana ada ucapan semuanya baik cari yang lebih baik dari ucapan-ucapan tadi, ada beberapa amalan semuanya baik kita cari yang paling baik ini termasuk memanfaatkan waktu.

ومن هنا عظُمت رعاية العلماء للوقت

Dari sini kita mengetahui besarnya penjagaan ulama terhadap waktu, karena mereka mengetahui tentang bagaimana berharganya waktu

حتىٰ قال محمَّد بن عبد الباقي البزَّاز

sehingga seorang ulama yaitu Muhammad bin Abdul Baqi Al-Bazzās beliau mengatakan

ما ضيَّعتُ ساعةً من عمري في لهوٍ أو لعبٍ

aku tidak pernah menyia-nyiakan sedikitpun dari umurku di dalam perkara yang sia-sia atau dalam bermain-main, sampai mengatakan demikian tidak pernah menyia-nyiakan meskipun hanya sekedar dari umurnya dalam perkara yang sia-sia atau bermain-main.

Lihat bandingkan antara beliau dengan keadaan kita, berapa waktu yang kita gunakan untuk ibadah dalam sehari berapa waktu yang kita gunakan untuk ilmu, sisanya masing-masing dari kita bisa menjawab sendiri, untuk permainan untuk melihat sesuatu yang tidak bermanfaat.

وقال أبو الوفاء ابن عقيل

Berkata Abul Wafa’ Ibnu ‘Aqil

الذي صنَّف كتاب الفنون في ثمانمائة مجلَّدٍ

Berkata seorang ulama Ibnu ‘Aqil yang beliau adalah yang menulis Kitabul Funun setebal 800 jilid, beliau mengatakan

إنيِّ لا يحِلُّ لي أن أُضيِّعَ ساعةً من عمري

Sesungguhnya tidak halal bagiku untuk menyia-nyiakan sekejap pun dari umurku.

Jadi beliau sampai menulis sebanyak itu kitabnya karena beliau tidak menyia-nyiakan waktunya, kalau kita bisa menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya sebenarnya banyak yang bisa kita kerjakan, kita bisa menghafal kita bisa membaca kitab, kalau kita sudah sampai kita bisa menulis, banyak sebenarnya cuma banyak di antara kita yang menyia-nyiakan waktunya sehingga waktunya tidak berbarakah.

وبَلَغَتْ بهمُ الحال أن يُقرأ عليهم حال الأكل؛ بل كان يُقرأ عليهم وهم في دار الخاء

Dan ada di antara mereka (saking mereka menjaga waktunya) yang dibacakan, artinya ada seorang guru muridnya disuruh membaca dan dia dalam keadaan makan, sambil dia makan dia minta seseorang untuk membacakan kitab, ingin mengambil faedah.

Ini juga bisa kita lakukan kita sambil makan mungkin sambil nyetel sesuatu kita tidak ingin menyia-nyiakan waktu, apakah itu bisa, bisa sebenarnya, sambil kita di mobil pulang atau berangkat kita mendengarkan sebuah ilmu supaya tidak sia-sia waktu kita.

بل كان يُقرأ عليهم وهم في دار الخاء

Bahkan terkadang ada di antara mereka dibacakan kepada beliau dan mereka berada di dalam darul khala’ (tempat untuk mandi atau untuk buang hajat).

Ada seseorang yang disuruh membaca dengan suara keras diluar, dia bukan membaca di dalam kamar kecil tersebut tapi ada orang lain yang disuruh membaca dengan keras di luar karena beliau tidak ingin menyia-nyiakan waktunya.

Karena biasanya orang di dalam kamar mandi itu tersia-sia waktunya, mungkin ngelamun mungkin dia memikirkan sesuatu yang tidak bermanfaat, dia tidak ingin menyia-nyiakan waktunya sampai ketika berada di dalam kamar kecil tersebut dia ingin memanfaatkan waktunya. Ini termasuk pengagungan terhadap ilmu kita menggunakan waktu kita benar-benar untuk ilmu.

فاحفظ أيُّها الطَّالبُ وقتَك

Maka hendaklah engkau wahai seorang penuntut ilmu menjaga waktumu, jaga waktumu dengan baik jangan disia-siakan

فلقد أبلغ الوزيرُ الصَّالح ابنُ هُبيرة في نصحك بقوله

Maka Al-Wazir Ash-Shalih Ibn Hubairah, beliau adalah seorang menteri kerajaan yang memiliki perhatian yang besar terhadap ilmu, sungguh beliau bersungguh-sungguh dalam memberikan nasihat kepadamu dengan ucapan beliau

والوقت أنفسُ ما عُنيتَ بحفظه

Dan waktu sebenarnya adalah sesuatu yang paling berharga yang kamu harus menjaganya, itu lebih berharga daripada harta yang kau miliki daripada rumah yang engkau miliki, waktu itu adalah suatu yang paling berharga yang harusnya engkau jaga dia

وأراه أسهلَ ما عليك يضيعُ

dan aku melihat bahwasanya itu adalah sesuatu yang paling mudah engkau sia-siakan.

Padahal itu adalah sesuatu yang paling berharga yang harusnya kita jaga tapi justru paling mudah kita menyia-nyiakan waktu tersebut, kadang kalau sudah nganggur yang dicari nonton apa buka apa, mudah sekali seorang menyia-nyiakan waktu, tapi jarang di antara kita sedang nganggur apa yang ana lakukan ana murajaah surat apa apa yang kitab yang ana baca sekarang, makanya beliau mengatakan sangat mudah sekali  waktu tersebut engkau sia-siakan.

تمت الخلاصة

Telah sempurna kitab Al-Khulasah.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

Dengan demikian kita telah menyelesaikan kitab yang sangat berharga ini yang ditulis oleh guru kami yang mulia beliau adalah Syaikh Shālih Ibn Abdillāh Ibn Hamad hafidzahullāhu ta’ala, semoga Allāh subhanahu wa ta’ala mengampuni dosa beliau dan mengampuni dosa kedua orang tua beliau dan memberikan kepada beliau pahala yang besar dan menjadikan apa yang kita baca dari kitab beliau ini menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kita dan kita amalkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_print

Halaqah 24 | Simpul 19 – Kecintaan yang Besar terhadap Ilmu dan Berusaha Membesarkan Kecintaan tersebut

 

Halaqah 24 | Simpul 19 – Kecintaan yang Besar terhadap Ilmu dan Berusaha Membesarkan Kecintaan tersebut

Kitab: Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-24 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shālih Ibn Abdillāh Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullāhu ta’ala.

المعقد التاسع عشر

Simpul yang ke-19 di antara simpul-simpul (prinsip-prinsip) yang dengannya kita bisa mengagungkan ilmu

شَغَفُ القلب بالعلم

kecintaan yang besar yang dahsyat terhadap ilmu

وَغَلَبَتُه عليه

dan berusaha untuk memenangkan (membesarkan) kecintaan tersebut, menjadikan kecintaan dia terhadap ilmu berkuasa menguasai hatinya, ini adalah bentuk pengagungan kita terhadap ilmu kita berusaha untuk membesarkan kecintaan kita terhadap ilmu.

فصدق الطَّلب له يوجب محبَّته، وتعلُّقَ القلب به، ولا ينال العبدُ درجةَ العلم حتَّىٰ تكون لذَّته الكبرىٰ فيه

Maka kesungguhan (shidq) di dalam mencari ilmu, shidq di sini adalah kejujuran, dan sudah berlalu yang dimaksud dengan kejujuran dalam menuntut ilmu itu adalah mengumpulkan seluruh keinginan untuk ilmu.

Sudah kita terangkan kita ini banyak keinginan, ingin mobil ingin harta ingin itu dan ini maka termasuk kejujuran kita dalam menuntut ilmu adalah kita kumpulkan keinginan-keinginan tadi untuk mendapatkan ilmu, akibat dari kita mengumpulkan keinginan tadi untuk ilmu adalah akhirnya kita akan mencintai ilmu tersebut, itu akan membawa kita mencintai ilmu tersebut.

Jadi kalau kita ingin memiliki syaghaf (kecintaan yang sangat terhadap ilmu) maka kita harus mengumpulkan keinginan-keinginan tadi untuk mendapatkan ilmu tadi, dan ini akan menyebabkan hati kita memiliki hubungan yang sangat erat dengan ilmu.

Dan seorang hamba tidak akan mendapatkan derajat (ketinggian) di dalam ilmu sampai kelezatan (kenikmatan) dia yang paling besar di dalam ilmu tadi, kita tidak akan mendapatkan ketinggian ilmu sampai kita merasakan bahwasanya kita ini merasa nikmat dan merasa lezat ketika kita berkecimpung dengan ilmu.

Kalau kita sudah sampai derajatnya nikmat bersama ilmu, menghadiri majelis ilmu nikmat menulis nikmat memikirkan ilmu nikmat, kalau sudah sampai disitu ini kita sudah sampai derajat yang tinggi dalam masalah ilmu kalau kita sudah merasakan kenikmatan kita bukan ketika kita bertamasya bukan ketika kita di mall bukan ketika kita berjalan-jalan tapi kita mendapatkan kelezatan ketika kita memikirkan ilmu, ini sudah sampai derajat yang tinggi, bagaimana seseorang bisa mendapatkan kelezatan tadi

وإنمَّا تُنال لذَّة العلم بثلاثة أمورٍ

Kelezatan ilmu tadi itu bisa didapatkan dengan tiga perkara, kalau seseorang sudah merasakan lezatnya nikmatnya di dalam ilmu ini mengalahkan yang lain, mengalahkan orang-orang kaya mengalahkan para penguasa dan raja-raja di dunia mengalahkan kelezatan yang mereka rasakan, kalau seseorang sudah sampai nikmat di dalam ilmu maka dia akan merasakan nikmat yang luar biasa yang tidak dirasakan oleh raja-raja di dunia.

ذكرها أبو عبد الله ابن القيِّم

Disebutkan oleh Ibnul Qayyim Abu Abdillah (kunyahnya) rahimahullāh

أحدِها

yang pertama adalah

بذل الوُسْع والجَهْد

kalau kita ingin mendapatkan lezatnya ilmu maka maka kita harus mengeluarkan / mengerahkan kekuatan kita dan kemampuan kita kesungguhan kita dalam menuntutnya.

Hadir di majelis ilmu, menghafal, bangun di malam hari untuk murajaah, bertanya, kita kerahkan tenaga kita, kalau kita malas-malasan dan setengah-setengah tidak mengerahkan seluruh kemampuan kita untuk mendapatkan ilmu maka kita tidak akan mendapatkan kelezatan ilmu.

وثانيها

Dan yang kedua adalah

صدق الطَّلب

jujur dalam mencari, kejujuran dalam mencari yaitu dengan cara kita mengumpulkan seluruh keinginan kita, kita tumpahkan semuanya untuk menuntut ilmu

وثالثِها

dan yang ketiga adalah

صحَّة النِّيَّة والإخلاص

kebenaran niat dan juga keikhlasan.

Dan sudah berlalu niat dalam menuntut ilmu, ana ingin menghilangkan kebodohan yang ada pada diri ana, ana ingin menghilangkan kebodohan pada diri orang lain, ana ingin menjelaskan nanti ke keluarga ana ingin menjelaskan ke teman-teman ana yang benar adalah seperti ini.

Atau niatnya adalah ingin menghidupkan ilmu yang sebelumnya mati di dalam dirinya dia hidupkan dengan cara menuntut ilmu, yang sebelumnya mati di hati orang lain maka dia hidupkan dengan cara dia menuntut ilmu terlebih dahulu dan ingin menghidupkan ilmu tersebut di hati-hati orang lain.

Kemudian yang keempat adalah ingin mengamalkan ilmu tadi, kalau niat kita ikhlas dan kita dengan fisik kita kita keluarkan dan kita kerahkan kemampuan kita dan hati kita atau keinginan kita kita satukan untuk mendapatkan ilmu tadi maka ini dengan tiga hal seperti ini kita insyaAllāh akan merasakan lezatnya ilmu.

ولا تَتِمُّ هٰذه الأمور الثَّلاثة، إلَّ مع دفع كلِّ ما يُشْغِلُ عن القلب

Dan tidak akan sempurna tiga perkara ini kecuali apabila kita menolak segala sesuatu yang menyibukkan dari hati kita, segala sesuatu yang menyibukkan yang memalingkan dari hati kita maka hendaklah kita tolak kalau kita menolak maka akan sempurna tiga perkara ini.

Adapun seseorang dia bersungguh-sungguh dan dia kumpulkan seluruh keinginannya dan dia punya niat yang ikhlas tapi dia senang melakukan perkara-perkara yang menyibukkan hatinya yang melalaikan hatinya, tidak dia hindarkan dan tidak dia jauhi maka ini juga sulit bagi seseorang untuk mendapatkan lezatnya ilmu.

Ini yang mengucapkan Ibnul Qayyim seorang ulama dan dia sudah merasakan lezatnya ilmu tersebut, dia sampaikan cara ini kepada kita supaya kita juga ikut merasakan apa yang dirasakan oleh para ulama.

إنَّ لذَّة العلم فوق لذَّة السُّلطان والحكم الَّتي تتطلَّع إليه ونفوسٌ كثيرةٌ، وتُبذَل لأجلها أموالٌ وفيرةٌ، وتُسفَك دماءٌ غزيرةٌ

Beliau menyebutkan tentang bagaimana nikmatnya ilmu, Sesungguhnya lezatnya ilmu itu di atas lezatnya seorang penguasa atau lezatnya kekuasaan, jabatan kekuasaan lezat, antum jadi seorang penguasa petinggi antum memerintahkan menyuruh melarang mengeluarkan peraturan nikmat tapi ternyata kelezatan ilmu itu lebih tinggi.

Antum menjadi seorang penguasa dilayani oleh orang lain ketika antum ke sana disambut dilayani dihidangkan makanan yang paling lezat ditawari dihormati sebuah kelezatan, tapi ternyata kelezatan ilmu ini lebih tinggi daripada kelezatan jabatan tadi kedudukan tadi, kelezatan yang di mana banyak orang yang mencari-cari kelezatan tersebut.

Orang berebutan ingin menduduki kedudukan tertentu di sebuah instansi, ana ingin jadi seorang direktur ana ingin menjabat jabatan tersebut, berebutan mungkin sampai mengeluarkan uang

وتُبذَل لأجلها أموالٌ وفيرةٌ

sampai mereka berani untuk nyogok demi untuk mendapatkan kelezatan kedudukan dan jabatan tadi

وتُسفَك دماءٌ غزيرةٌ

bahkan ditumpahkan darah demi untuk mendapatkan kedudukan tadi, kalau perlu saingannya tadi mati demi untuk mendapatkan kedudukan tadi, tapi ternyata kelezatan ilmu itu jauh lebih tinggi lebih lezat daripada kelezatan kekuasaan.

ولهذا

Oleh karena itu

كانت الملوك تتوقُ إلىٰ لذَّة العلم، وتُحِسُّ فقدَها، وتطلُب تحصيلَها

Buktinya kelezatan ilmu itu jauh lebih tinggi dan lebih lezat daripada kelezatan kekuasaan, dahulu para raja mereka tatūq (rindu) untuk mendapatkan kelezatan ilmu, berarti mereka belum merasakan kelezatan tadi mereka rindu untuk merasakan kelezatan ilmu dan mereka merasakan kehilangan kelezatan tadi dan mereka berusaha untuk mendapatkannya. Ada sebuah kisah

قيل لأبي جعفرٍ المنصور

Dikatakan kepada Abu Ja’far Al-Manshur

الخليفةِ العباسيِّ المشهور

seorang khalifah dari Bani ‘Abbas yang terkenal

الَّذي كانت ممالكه تملأ الشَّرق والغرب

di mana kekuasaan beliau saat itu meliputi dari timur ke barat, apa yang beliau ucapkan didengar beliau dihormati dan disegani oleh orang banyak.

هل بقي من لذَّاتِ الدُّنيا شيءٌ لم تنله؟

Pernah ditanyakan kepada beliau, karena beliau tentunya sudah merasakan berbagai kenikmatan dunia mungkin kenikmatan harta kenikmatan wanita kenikmatan jabatan dan seterusnya. Apakah ada dari kelezatan dunia yang belum kamu rasakan

فقال

maka beliau menjawab

وهو مستوٍ علىٰ كرسيِّه وسرير ملكه

beliau menjawab dan saat itu beliau berada di atas kursinya dan di atas singgasana kerajaannya, jadi ditanya dan beliau dalam keadaan berada di atas singgasana kursi kebesaran

بقيت خَصلةٌ

kata beliau, ada satu kenikmatan yang belum pernah ana rasakan

أن أقعُدَ علىٰ مِصْطَبَةٍ

kenikmatan tersebut adalah aku duduk di atas mishthabah (sesuatu yang agak tinggi), zaman dulu ketika ada majelis ilmu maka gurunya duduknya di tempat yang agak tinggi daripada murid-muridnya supaya murid-muridnya melihat beliau, aku ingin duduk yaitu aku duduk di atas mishthabah, di atas sesuatu yang agak tinggi

وحولي أصحاب الحديث – أي طاَّبُ العلم

dan aku berkeinginan di sekitarku ini adalah para penuntut hadits, orang-orang yang mencari hadits Nabi ﷺ yang dia melakukan rihlah perjalanan yang panjang untuk mencari hadits, aku ingin duduk sebagai seorang guru di atas tempat yang agak tinggi kemudian mereka berada di sekitarku yaitu para penuntut ilmu

فيقول المستملي

kemudian berkata mustamliy (orang yang ada di depan seorang Syaikh dan dia nanti yang berkata kepada Syaikh hadits apa yang engkau ingin sampaikan)

من ذكرت رحمك الله؟

mustamliy tadi mengatakan Siapa yang engkau sebutkan semoga Allāh ﷻ merahmati dirimu?

Mustamliy sekaligus murid sekaligus dia yang perannya di majelis tersebut sebagai mustamliy yaitu berkata kepada gurunya dari siapa haditsmu siapa yang engkau sebutkan barulah setelah itu nanti syaikhnya mengatakan haddatsana fulan.

يعني فيقول

maksud beliau adalah setelah itu beliau akan mengatakan

حدَّثنا فلانٌ، قال: حدَّثنا فلانٌ

beliau mengatakan telah memberikan atau menyampaikan kepadaku hadits si fulan

ويسوق الأحاديث المسندة

kemudian dia menyebutkan hadits tersebut secara bersanad.

Dia berkeinginan untuk menjadi seperti itu, mungkin beliau pernah melihat di masjid mereka berkumpul mungkin ribuan atau 5 ribuan orang seperti di majelisnya Imam Ahmad, murid-muridnya mendengar kemudian satu orang mengatakan hadits apa Syaikh kemudian beliau mengatakan haddatsana fulan qāla haddatsana fulan qāla akhbarana dan seterusnya qāla Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam demikian dan demikian.

Beliau berkeinginan seandainya beliau menjadi seperti itu menjadi seorang Ahlul Hadits, ini menunjukkan bahwasanya mereka ingin merasakan nikmat yang dirasakan oleh para ulama para Ahlul Hadits.

ومتىٰ عُمِر القلب بلذَّة العلم سقطت لذَّاتُ العادات

Dan kapan saja hati seseorang itu dipenuhi dengan kelezatan ilmu (kalau kita sudah merasakan kelezatan ilmu) maka akan berjatuhan kelezatan-kelezatan perkara-perkara yang merupakan adat dan kebiasaan kita.

Ketika seorang sudah merasakan lezatnya ilmu maka dia akan melihat kelezatan makanan itu tidak ada apa-apanya, ketika dia merasakan lezatnya ilmu maka dia sudah tidak memandang makanan yang favorit itu sebagai suatu yang wah atau minuman yang enak sesuatu yang wah atau tempat tidur yang empuk itu suatu yang sangat menghibur dia, ini terjadi ketika dia merasakan lezatnya ilmu.

وذهَلَتِ النَّفسُ عنها

Maka jiwa ini akan lupa dan lalai terhadap kelezatan-kelezatan perkara-perkara kebiasaan tadi, seperti makan minum tidur dan seterusnya

بل تستحيل الآلامُ لذَّةً بهٰذه اللَّذَّة

bahkan kata beliau, sesuatu yang sakit menurut orang biasa itu bisa menjadi kelezatan tersendiri dengan adanya kelezatan ilmu.

Mungkin orang menyangka kok bisa duduk dari habis Ashar sampai Isya’ misalnya, orang menyangka capek sekali jadi orang menuntut ilmu tapi orang yang menuntut ilmu tidak merasakan, orang yang merasakan kelezatan ilmu justru semakin lama dia semakin senang, itu kok bisa tidur sehari semalam cuma 1 jam ana saja tidur 6 jam inginnya tidur lagi, padahal ketika dia bermalam bersama ilmu murajaah atau membaca ilmu tadi kepada gurunya misalnya dia merasakan disitu nikmat yang luar biasa.

Ada sebagian ulama sampai mereka lupa makan lupa minum karena sedang sibuk dengan ilmu tadi, jangan kita menyangka tersiksa sekali orang tersebut tidak makan sayang tidak minum ini tidak makan ini, tidak, dia dalam keadaan nikmat yang luar biasa dengan ilmu tadi.

Maka ini adalah bentuk pengagungan kita terhadap ilmu, kita berusaha untuk mencintai ilmu tersebut dan menjadikan kecintaan kita terhadap ilmu ini menguasai hati kita dengan cara yang tadi disebutkan.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_print

Halaqah 23 | Simpul 18 – Beradab Ketika Bertanya kepada Guru

 

Halaqah 23 | Simpul 18 – Beradab Ketika Bertanya kepada Guru

Kitab: Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-23 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shālih Ibn Abdillāh Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullāhu ta’ala.

المعقد الثامن عشر التحفظ في مسألة العالم

Simpul yang ke-18 adalah hendaklah kita berhati-hati / menjaga ketika kita bertanya kepada seorang guru atau seorang yang berilmu, التحفظ artinya kita berusaha untuk menjaga, menjaga lisan menjaga adab kita ketika kita bertanya kepada seorang guru seorang yang berilmu yang dia akan menularkan dan menyampaikan ilmunya kepada kita supaya benar-benar yang sampai kepada kita ini adalah ilmu, kalau kita mengagungkan ilmu maka kita berhati-hati dalam bertanya dan ketika kita ingin mengeluarkan ilmu tersebut dari guru kita

فرارًا من مسائل الشَّغْب، وحفظًا لهيبة العالم؛ فإنَّ من السُّؤال ما يرُاد به التَّشغببُ وإيقاظ الفتنة وإشاعة السُّوء

Usaha untuk lari dari permasalahan-permasalahan yang menimbulkan fitnah (pertanyaan-pertanyaan yang menimbulkan keonaran) dan juga untuk menjaga kewibawaan dari seorang ‘alim

Maka perlu diketahui bahwasanya ada di antara pertanyaan yang diinginkan dibalik itu adalah untuk mengobarkan api fitnah untuk membangunkan fitnah untuk menyebarkan kejelekan maka hati-hati dengan pertanyaan seperti ini.

Sedang banyak peristiwa banyak kejadian viral kemudian ada sengaja seseorang karena ingin menyulut api fitnah akhirnya dia bertanya kepada gurunya dengan pertanyaan yang bisa mengobarkan fitnah tersebut, ini harus kita pahami dan seorang guru harus memahami yang demikian

ومن آنس منه العلماء هٰذه المسائل لقي منهم ما لا يُعجبه

Para ulama mendapatkan bahwasanya pertanyaan-pertanyaan ini adalah sumber dari fitnah, dan para ulama mereka sadar yang demikian, maka seseorang akan melihat dari para ulama tersebut sesuatu yang tidak menakjubkan dia.

Karena para ulama ini sadar sebelum datang fitnah dia sudah tahu ini bisa mengobarkan api fitnah, makanya kalau kita sampai salah dalam bertanya jangan menyalahkan orang lain kalau melihat ulama yang kita tanya dia bersikap kepada kita atau mengucapkan kepada kita sesuatu yang kita tidak senang

كما مرَّ معك في زجر المتعلِّم

sebagaimana telah berlalu tentang memberikan pelajaran kepada seorang murid

فا بدَّ من التَّحفُّظ في مسألة العالم

maka hendaklah kita menjaga dan benar-benar menjaga ketika kita bertanya kepada seorang yang ‘alim

ولا يُفلح في تَحَفُّظه فيها إلَّ من أعمل أربعة أصولٍ

seseorang tidak mungkin sukses dalam menjaga pertanyaannya kecuali apabila dia melaksanakan empat pondasi.

Ini kita harus punya pemahaman punya cara yang benar dalam bertanya kepada seorang guru supaya kita mendapatkan manfaat, kalau kita tidak punya fiqh tidak punya pemahaman tidak paham cara bertanya kepada seorang guru maka akan hilang keberkahan ilmu tadi, bukan manfaat yang kita dapatkan justru malah sesuatu yang tidak kita senangi yang kita dapatkan karena kita tidak belajar tentang bagaimana bertanya.

أوَّلها

Yang pertama

الفكر في سؤاله لماذا يسأل؟

Dia pikirkan dulu tentang pertanyaan yang akan dia tanyakan, kenapa dia bertanya

فيكون قصده من السُّؤال التَّفقُّه والتَّعلُّم، لا التَّعنُّت والتَّهكُّم؛

hendaklah dia perhatikan bahwasanya maksud dia ketika bertanya kepada guru tadi adalah ingin paham ingin belajar.

Jadi dia tanyakan kepada dirinya kenapa ana bertanya tentang pertanyaan ini kalau jawabannya adalah ana ingin lebih paham ana ingin mendapatkan ilmu maka itu sudah poin yang pertama yang bagus, berarti maksud antum adalah ingin memahami agama ini

لا التَّعنُّت والتَّهكُّم

bukan ta’annut (ingin membantah) dan bukan ingin tahakkum (menyempitkan gurunya), sengaja dia bertanya kepada gurunya supaya syaikhnya bingung supaya dia kelihatan sempit, kalau sudah niatnya seperti itu kita harus menahan diri dari pertanyaan tadi tapi kalau niatnya adalah ingin paham tentang agamanya dan sungguh-sungguh dia ingin memahami agamanya, silahkan

فإنَّ من ساء قصده في سؤاله يُحرم بركةَ العلم، ويُمنع منفعته

karena barang siapa yang buruk maksud dia dan niat dia dalam bertanya maka dia tidak akan mendapatkan berkah ilmu.

Kalau maksud dia bukan belajar tapi ingin membantah mungkin sama Syaikh dibantah bisa dijawab pertanyaan tadi, mungkin maksud dia ingin menyempitkan gurunya dan bisa ditangani oleh guru tadi tapi karena niatnya dia dari awal memang ingin sekedar membantah ingin sekedar menunjukkan dia pernah belajar di sana dan di sini, meskipun dijawab oleh gurunya dia tidak akan mendapatkan berkah ilmu tadi.

Mungkin ketika gurunya menyampaikan dia tidak konsen lagi karena tujuan dia bukan ingin paham tapi hanya sekedar ingin membantah, dia sudah anggap gurunya ini tidak bisa jawab, bagaimana orang orang yang demikian dia mendapatkan ilmu

ويُمنع منفعته

dan dia tidak mendapatkan manfaat dari ilmu tersebut, tidak bisa mengamalkan ilmu tadi.

الأصل الثَّاني

Yang kedua yang harus kita perhatikan ketika kita ingin bertanya kepada guru

التَّفطُّنُ إلىٰ ما يَسأل عنه

hendaklah dia memikirkan apa pertanyaan yang dia tanyakan, kalau tadi memperhatikan kenapa dia bertanya niatnya apa kalau yang kedua kita harus meperhatikan pertanyaan apa yang kita tanyakan kepada guru kita, mungkin kita ikhlas ingin paham tapi bagaimana pertanyaan tersebut apakah ada manfaatnya atau tidak

فا تسأل عمَّا لا نفع فيه؛

jangan engkau bertanya tentang suatu yang tidak bermanfaat.

Syaikh menyebutkan contohnya misalnya apakah air banjir yang ada di zaman Nabi Nuh itu air asin atau air tawar, karena seluruh bumi tergenang air itu airnya asin atau air tawar, ini pertanyaan yang tidak ada manfaatnya.

إمَّا بالنَّظر إلىٰ حالك

mungkin dilihat dari keadaan dirimu, artinya antum bertanya tentang sesuatu yang itu seandainya dijawab manfaatnya tidak akan kembali ke antum, suatu yang terjadi di belahan Afrika sana misalnya seandainya dijawab tidak ada manfaatnya bagi antum, politik yang ada di sana misalnya peperangan yang ada di sana

أو بالنَّظر إلىٰ المسألة نفسها

atau dilihat dari pertanyaan itu sendiri tidak ada manfaatnya, seperti yang tadi kita sebutkan contohnya, tidak ada manfaatnya jangan bertanya.

Antum menghabiskan waktu antum dan menghabiskan waktu Syaikh kalau beliau tidak menjawab atau berpaling dari pertanyaan antum jangan salahkan kecuali diri antum sendiri karena yang antum tanyakan memang tidak ada manfaatnya bagi antum atau memang asalnya tidak ada manfaatnya.

ومثله السُّؤال عمَّا لم يقع

Yang seperti itu juga adalah bertanya tentang sesuatu yang belum terjadi, Syaikh seandainya misalnya di sana itu begini dan begini bagaimana Syaikh yang kita lakukan, ini bertanya tentang sesuatu yang belum terjadi dan belum tentu terjadi

أو ما لا يُحدَّث به كلُّ أحدٍ، وإنَّما يُخصُّ به قومٌ دون قومٍ

atau pertanyaan tersebut ini tidak boleh jawabannya didengar kecuali orang-orang khusus saja.

Antum bertanya tentang sebuah pertanyaan yang jawabannya tidak boleh didengar kecuali orang-orang tertentu saja, ini antum jangan bertanya kepada beliau di hadapan orang banyak tentang pertanyaan tersebut, kalau kita tidak memahami pertanyaan yang bermanfaat dan tidak mengetahui pertanyaan yang bermanfaat maka jangan salahkan kalau nanti kita lihat Syaikh berpaling dari ucapan kita atau mengusir kita dari majelis.

Kalau kelihatan antum dari kemarin pertanyaannya seperti ini, yang dibawa adalah syubhat-syubhat padahal di situ ada fulan ada orang yang baru ngaji ada orang yang baru kenal sunnah tapi yang antum bawa syubhat-syubhat tentang masalah masalah takfir masalah ini dan itu, bisa diusir dari majelis, daripada satu orang di sini tapi merusak orang-orang yang ada di majelis maka lebih baik diusir satu orang dan yang lain mengambil ilmu

الأصل الثَّالث

Yang ketiga

الانتباه إلىٰ صلاحية حال الشَّيخ للإجابة عن سؤاله

hendaklah kita memperhatikan keadaan Syaikh bagaimana keadaan beliau ketika beliau akan menjawab pertanyaan tadi

فا يَسألُه في حالٍ تمْنَعُهُ

jangan sampai seseorang bertanya kepada gurunya di dalam keadaan yang mencegah beliau untuk bisa menjawab pertanyaan.

Jadi kita lihat situasi dan kondisi Syaikh jangan sampai kita bertanya kepada beliau dan beliau dalam keadaan yang menghalangi beliau untuk menjawab pertanyaan kita, cari waktu kondisi yang kira-kira beliau dengan leluasa bisa menjawab pertanyaan kita dengan baik, contoh misalnya keadaan yang tidak pas kita bertanya kepada beliau

ككونه مهمومًا

mungkin beliau dalam keadaan mahmum, sedang ada beban yang ada di dalam hati beliau, kalau kita bertanya kepada beliau dalam keadaan seperti itu mungkin beliau akan menjawab pertanyaan kita tapi jawabannya tidak seperti yang kita inginkan, karena di dalam hati beliau ada beban ada suatu yang sangat beliau pikirkan.

Mungkin anaknya sedang dalam keadaan panas yang luar biasa dia memikirkan bagimana dia membawa anaknya rumah sakit, antum bertanya tentang sebuah perkara ini bukan pas bukan waktunya antum bertanya, jangan antum menyangka bahwasanya itu adalah menunjukkan semangat antum dalam menuntut ilmu.

Atau melihat beliau misalnya tidak konsen dalam menjawab pertanyaan kita karena sedang ada beban tadi kemudian kita mengatakan ini bukan seorang ulama seorang ahlul ilmu karena ditanya beliau tidak memperhatikan pertanyaan, antum yang salah dalam memilih kondisi dan juga situasi

أو متفكِّرًا

atau beliau dalam keadaan memikirkan sesuatu, tentang sebuah permasalahan agama masalah fiqih karena itu memang amalan mereka, pekerjaan mereka memikirkan ilmu terkadang mereka sampai beberapa hari memikirkan sebuah permasalahan mana yang lebih kuat, ketika beliau dalam keadaan seperti itu maka tidak pas antum bertanya kepada beliau

أو ماشيًا في طريقٍ

atau beliau dalam keadaan berjalan di jalan, mungkin beliau ada maksud ketika beliau berjalan itu ada tujuan, mungkin mau menjenguk orang atau ada janjian dengan orang lain di sana

أو راكبًا سيَّارَته

atau beliau dalam keadaan menyupir, karena orang yang sedang menyupir maka dia sedang konsentrasi dengan apa yang ada di depannya

بل يتحيَّنُ طيب نفسه

tetapi dia berusaha mencari kapan ketika beliau ini siap dan baik jiwanya untuk ditanya.

Misalnya memang beliau memberikan waktu khusus, beliau menyempatkan waktu memang ini untuk interaktif misalnya untuk pertanyaan silahkan berarti beliau memang siap untuk ditanya dan siap konsentrasi untuk menjawab pertanyaan.

الأصل الرَّابع

Yang keempat yang perlu kita perhatikan

تيقُّظ السَّائل إلىٰ كيفيَّة سؤاله

kalau niat kita sudah bagus pertanyaannya bermanfaat dan waktunya situasi dan kondisinya pas, yang keempat jangan lupa kita harus menyampaikan pertanyaan tadi dengan baik, harus dipikirkan bagaimana supaya pertanyaan tadi bisa disampaikan dengan baik, misalnya

بإخراجه في صورةٍ حسنةٍ متأدِّبةٍ

yaitu dengan memberikan pertanyaan tadi dalam bentuk yang baik dan penuh dengan adab, contoh

فيُقدِّم الدُّعاء للشَّيخ

dia mendahulukan dengan mendoakan, Syaikhuna ahsanallāhu ilaik, Syaikhuna bārakallāhu fīk, itu didahulukan dengan doa, ghafarallāhu lakum wa liwālidaykum, mendoakan kedua orang tuanya mendoakan untuk beliau, ini termasuk adab

ويبجِّله في خطابه

kemudian di dalam pertanyaan kita ada sesuatu yang menunjukkan kita ini menghormati beliau, Syaikhuna, Ustadzuna, Ya Mu’allim, Wahai Guru, ada ucapan yang menunjukkan kita menghormati beliau.

ولا تكون مخاطبته له كمخاطبته أهلَ السُّوق وأخلاطَ العوام

Jangan sampai ketika dia berbicara kepada guru tersebut kepada seorang ulama tersebut sama ketika dia berbicara dengan orang yang ada di pasar tidak ada doa tidak ada penghormatan ini berapa ini sekilo berapa, jangan sampai kita menyamakan ketika kita berbicara kepada guru kita sama ketika kita berbicara dengan orang-orang yang ada di pasar dengan suara yang keras tidak ada adabnya

وأخلاطَ العوام

dan orang-orang awam, kita harus hormati beliau dan menggunakan kalimat-kalimat yang baik yang menunjukkan penghormatan kita terhadap beliau.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_print

Halaqah 22 | Simpul 17 – Membela Ilmu dan Mencegah dari Orang yang Akan Merusak Ilmu

 

Halaqah 22 | Simpul 17 – Membela Ilmu dan Mencegah dari Orang yang Akan Merusak Ilmu

Kitab: Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm
Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A
Transkrip: ilmiyyah.com

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Halaqah yang ke-22 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shālih Ibn Abdillāh Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullāhu ta’ala.

المعقد السابع عشر

Simpul yang ke-17 di antara simpul-simpul (prinsip-prinsip) yang dengannya kita bisa mewujudkan pengagungan terhadap ilmu di dalam diri kita

الذب عن العلم، والذود عن حياضه

adalah membela ilmu, kita harus punya rasa pembelaan terhadap ilmu karena ilmu qalallahu waqala rasul dengan pemahaman para salaf ini harus kita bela jangan sampai ada yang berusaha untuk merusak ilmu dan merusak pemahaman yang benar terhadap ilmu, kalau ada yang merusaknya kita berusaha untuk membelanya

والذود عن حياضه

dan kita berusaha untuk mengusir setiap orang yang ingin mendekati (merusak) telaga-telaga ilmu tersebut, ini bentuk pengagungan kita terhadap ilmu.

Orang yang cinta dengan ilmu dan mengagungkan ilmu dia tidak akan rela kalau di sana ada orang-orang yang berbicara dan merusak ilmu, Allāh ﷻ mengatakan demikian Rasul ﷺ mengatakan demikian pemahaman demikian tapi dia berbicara di hadapan orang dan mengobrak abrik ilmu dan merusak pemahaman yang benar tentang ilmu, maka harus ada di dalam hatinya girah (kecemburuan) tidak rela kalau sampai ada orang yang merusak ilmu, ini bentuk penganggungan kita terhadap ilmu.

 إنَّ للعلم حُرمةً وافرةً، توجب الانتصارَ له إذا تُعرِّض لجنَابه بما لا يصلحُ

Sesungguhnya ilmu ini memiliki kehormatan yang tinggi kehormatan yang besar yang mengharuskan kita untuk membela ilmu tersebut apabila ada yang berusaha untuk merusaknya, apabila ada yang berusaha memasukkan ke dalam ilmu tadi sesuatu yang tidak benar.

وقد ظهر هٰذا الانتضار عند أهل العلم في مظاهرَ

Dan telah muncul terwujud pembelaan tersebut (pembelaan yang dilakukan oleh para ulama) pada keadaan-keadaan berikut.

Jadi terlihat di sana peristiwa atau keadaan yang menunjukkan bahwasanya para ulama mereka berkeinginan untuk membela mati-matian ilmu tersebut, ilmu yang mereka rela untuk meninggalkan negaranya sampai ke negara lain mengeluarkan harta yang dia miliki dia berpisah dengan keluarganya, bukti kecintaan mereka terhadap ilmu

منها

diantaranya adalah

الرَّدُّ علىٰ المخالف

membantah orang yang menyimpang.

Para ulama membantah, Imam Ahmad membantah, Ibnu Taimiyah membantah karena ini adalah bentuk pengagungan mereka terhadap ilmu, mereka tidak rela ilmu itu dirusak, dia harus bangkit dia habiskan malamnya mungkin untuk menulis bantahan dihabiskan waktu selama beberapa bulan untuk menulis bantahan, itu dilakukan ingin membela mati-matian ilmu yang dia agungkan, tidak ingin ilmu dirusak oleh sebagian orang.

فمن ٱستبانت مخالته للشَّريعة رُدَّ عليه كائنًا من كان

Maka barang siapa yang jelas penyimpangan dia terhadap syariat maka dia harus dibantah siapapun dia.

Terkadang temannya sendiri, Al Imam Ahmad Bin Hanbal berkata kepada Ishaq Ibn Rahawaih teman beliau sendiri dan sama-sama ulama tapi ilmu lebih dia cintai kalau tidak benar sikapnya terhadap ilmu yang dia sampaikan bukan demikian cara memperlakukan ucapan orang-orang yang baik, siapapun dia maka ditolak meskipun itu adalah temannya sendiri meskipun adalah keluarganya sendiri

حَيَّةً للدِّين، ونصيحةً للمسلمين

itu dilakukan yang pertama adalah untuk menjaga agama, dia sampaikan bantahannya untuk menjaga agama ini supaya tetap murni suci tidak dirusak oleh pemikiran yang menyimpang

ونصيحةً للمسلمين

dan ini adalah bentuk nasehat untuk kaum muslimin, tidak ingin sampai pemahaman yang tidak benar itu kepada saudara-saudaranya di antara kaum muslimin, makanya beliau membantah karena tidak ingin kaum muslimin teracuni dan masuk di dalam pemikiran mereka ajaran-ajaran yang menyimpang ini bagian dari menasihati kaum muslimin.

ومنها

Di antara bentuk pembelaan para ulama terhadap ilmu adalah

هجرُ المبتدعِ

bukan hanya membantah saja tapi juga menghajr (memboikot) seorang ahlul bid’ah.

Ahlul bid’ah ini perusak agama menambah-nambah di dalam agama menyuruh manusia untuk meyakini bid’ah tadi atau mengamalkan bid’ah tadi maka termasuk bentuk pembelaan kita adalah memboikot mubtadi’.

ذكره أبو يعلىٰ الفرَّاء إجماعًا

Abu Ya’la Al-Farra’ menyebutkan bahwasanya adalah ijma’, menghajr mubtadi Itu adalah sebuah ijma

فا يُؤخذ العلم عن أهل البدع

tidak boleh diambil ilmu dari seorang ahlul bid’ah, seorang jahmi atau seorang mu’tazili atau seorang murjiah atau seorang khawarij jangan mengambil ilmu dari ahlul bid’ah mereka merusak.

Dan kalau kita mengambil ilmu darinya manusia akan tertipu si fulan saja mendatangi berarti tidak masalah kita mendatangi majelisnya tidak masalah kita mendengarkan ceramahnya akhirnya ajaran yang menyimpang tadi sampai kepada orang-orang orang awam kepada orang-orang yang jahil sehingga bisa merusak agama, maka pembelaan kita adalah dengan menghajr seorang mubtadi’.

لٰكن إذا ٱضْطرَّ إليه فلا بأس

Akan tetapi kalau dalam keadaan terpaksa maka tidak masalah.

Seperti misalnya di lingkungan sekolah kita belajar macam-macam perkara di situ ada satu pelajaran harus yang mengajar adalah si fulan mubtadi mau tidak mau kita harus menghadiri kelasnya kalau tidak maka kita tidak akan lulus misalnya, maka dalam keadaan terpaksa tidak masalah tapi kita harus berhati-hati dengan pemikirannya.

كما في الرِّواية عنهم لدىٰ المحدِّثين

Sebagaimana (ini sebuah contoh) hukum meriwayatkan dari mereka menurut para muhadditsin.

Para ahlul hadits asalnya mereka tidak mengambil ilmu dari ahlul bid’ah, kalau mereka mau mencari hadits mereka lihat dulu ini ahlul bid’ah atau ahlus sunnah kalau ahlus sunnah mereka ambil ilmunya kalau ahlul bid’ah maka mereka tidak mengambil ilmunya. Tapi di sana ada sebagian ahlul bid’ah, mereka lihat ini adalah ahlul bid’ah yang tidak bohong karena ahlul bid’ah ini ada yang suka bohong dan ada yang takut bohong.

Orang-orang khawarij dahulu mereka adalah orang-orang yang takut bohong karena mereka mengatakan pelaku dosa besar keluar dari islam, jadi mereka kalau bohong atas nama Nabi takut mereka, sehingga kadang kalau dia menghafal hadits memiliki riwayat hadits diambil darinya karena dia adalah punya keyakinan tidak boleh bohong sehingga tidak mungkin dia bohong di dalam menyampaikan hadits, ini sebuah pengecualian.

ومنها: زجر المتعلِّم إذا تعدَّىٰ في بحثه

Di antara bentuk pembelaan terhadap ilmu, selain membantah kemudian memboikot ahlul bid’ah, juga terkadang kita menggertak seorang penuntut ilmu yang ada di hadapan kita, kita bentak misalnya apabila dia berlebihan dalam menuntut ilmu

أو ظهر منه لَدَدٌ

atau terlihat bahwasanya orang ini suka membantah, dia mungkin baru belajar dan ingin menampakkan tentang semangatnya atau menampakkan ilmunya, sudah disampaikan oleh gurunya demikian dan demikian tapi begini, diulang lagi tapi begini dan seterusnya maka dalam keadaan demikian boleh bagi seorang guru untuk menggertak kalau kelihatan di dalam dirinya sifat seperti ini

أو سوءُ أدبٍ

atau terlihat dia tidak beradab, karena ini semua adalah menunjukkan penghinaan terhadap ilmu dan kita sebagai seorang yang menisbahkan kepada ilmu harus membela, ini tidak beradab dalam majelis padahal seharusnya seorang penuntut ilmu dan setiap orang yang cinta ilmu harus beradab di dalam majelis, kalau ini tidak beradab maka boleh bagi seorang guru untuk memberikan pelajaran bagi murid tersebut.

وإن ٱحتاج المعلِّم إلىٰ إخراج المتعلم من مجلسه؛ زجرًا له فليفعل

Kalau misalnya seorang guru perlu untuk mengeluarkan seorang murid dari majelisnya karena ingin memberikan pelajaran kepada murid tersebut maka hendaklah dia lakukan, karena keinginan guru tadi supaya anak ini sadar bahwasanya sikap dia itu salah, sikap dia ini tidak mencerminkan pengagungan terhadap ilmu sehingga terkadang diusir oleh gurunya

كما كان يفعله شعبة مع عفَّانَ بن مسلمٍ في درسه

Sebagaimana ini pernah dilakukan oleh Syu’bah rahimahullah (Amirul Mu’minin Fil Hadits), beliau pernah mengusir seorang muridnya dan dia adalah seorang imam juga sebenarnya seorang ahlul hadits ‘Affan Ibn Muslim di dalam darsnya.

Ini dilakukan oleh Syu’bah untuk memberikan pelajaran kepada muridnya supaya dia mengetahui adab-adab dalam menuntut ilmu, apakah ‘Affan ketika diusir oleh gurunya kemudian dia mutung dan putus asa kemudian malu tidak mau mengadiri majelis Syu’bah, tidak, beliau tetap tegar dan beliau bersabar.

Dan beliau tahu bahwasanya gurunya tidak melakukan yang demikian kecuali untuk kebaikannya dan karena gurunya mencintai ilmu dan mengagungkan ilmu dan ingin melihat muridnya juga mengagungkan ilmu tersebut sehingga jadilah Affan seorang ulama juga jadilah Affan seorang Imam juga karena dia bersabar dalam menuntut ilmu bersabar dalam bermajelis bersabar atas perilaku gurunya, kalau dia tidak bersabar maka mungkin dia akan jadi seorang tukang kayu saja atau tukang bersih-bersih saja tapi beliau bersabar dan akhirnya beliau juga mendapatkan ilmu dari Syu’bah.

Syu’bah melihat muridnya bersabar dan ternyata dia menghadiri majelis ilmunya Syu’bah lagi maka dia tahu bahwasanya ini murid benar-benar dia ingin mencari ilmu, maka akan diberikan kepadanya ilmu karena dia bersungguh-sungguh, ini ilmunya ini haditsnya karena dia melihat murid tersebut memang benar-benar ingin belajar. Kemudian

وقد يُزجر المتعلِّم بعدمِ الإقبال عليه

Terkadang seorang penuntut ilmu (murid) diberikan pelajaran dengan cara gurunya tidak menghadap kepada murid tadi, ketika ditanya oleh murid tadi dia tidak menghadapkan dirinya kepada murid tadi dicuekin

وتركِ إجابته

dan meninggalkan untuk menjawab pertanyaan dia, kalau memang murid tadi di dalam dirinya ada kebaikan maka InsyaAllāh dia akan bisa mengambil pelajaran, ini ada sesuatu pada pada diri Ana sehingga Syaikh beliau demikian dan demikian apa yang salah, kalau memang dalam dirinya ada kebaikan  maka dia akan memperbaiki dirinya

فالسُّكوت جوابٌ؛ قاله الأعمش

maka diamnya seseorang itu adalah sebuah jawaban, jawaban tidak harus diucapkan apalagi seorang ulama maka diamnya dia itu adalah sebuah jawaban, itu sebuah pelajaran bagi kita kalau beliau berbicara maka kita berbicara di dalam permasalahan tadi sebagaimana beliau berbicara kalau beliau diam ketahuilah bahwasanya para ulama itu diam di atas ilmu juga bukan karena mereka tidak tahu

فالسُّكوت جوابٌ

maka diamnya itu adalah sebuah jawaban, kita harus sadar kita harus mudah mengerti kenapa guru kita diam kenapa beliau tidak mau menjawab, kita harus sadar maksud beliau mungkin seperti ini mungkin ini kalau sampai dijawab akan terjadi fitnah bagi saudara-saudara Ana ini di sekitar ana masih banyak orang awam sementara pertanyaan Ana tadi sudah terlalu jauh, kalau sampai disampaikan dan dijawab oleh Syaikh ini fitnah bagi orang-orang yang ada di sekitar Ana, dia mengambil pelajaran, berarti nanti Ana kalau jadi seorang guru harus melihat suasana, maka diamnya guru kita itu adalah jawaban

قاله الأعمش

Ini diucapkan oleh Al-A’masy, ini adalah seorang muhaddits Sulaiman Ibn Mihran Al-Kufiy.

ورأينا هٰذا كثيرٍا من جماعةٍ من الشُّيوخ

Syaikh mengatakan dan kami melihat yang demikian banyak dilakukan oleh guru-guru kami atau para ulama

منهم العلَّمة ابن باز

diantaranya adalah Al-‘Allamah Ibn Baz rahimahullah (Syaikh Bin Baz)

فربَّما سأله سائلٌ عمَّا لا ينفعه، فترك الشيخ إجابَتَه، وأمر القارئ أن يواصل قراءته، أو أجابه بخلاف قصده

Terkadang ada yang tanya kepada Syaikh tentang sesuatu yang tidak bermanfaat, sampai perkara yang tidak bermanfaat ditanyakan, maka Syaikh tidak menjawab pertanyaan tadi kemudian menyuruh sang pembaca yaitu yang membaca kitab di hadapan beliau untuk meneruskan qira’ahnya, jadi ada yang bertanya Syaikh apa hukumnya demikian dan demikian saya mengatakan Iqra (baca), tidak dijawab pertanyaan orang tadi karena melihat itu tidak bermanfaat.

Ini pelajaran bagi kita kalau kita duduk di situ kalau ada orang yang bertanya dan kurang bermanfaat untuk sebagai pembelaan kita terhadap ilmu maka jangan kita menjawab pertanyaan tadi, ini pelajaran makanya ini penting seseorang melazimi seorang guru, dia bukan hanya belajar mengambil ilmu darinya tapi juga mengambil adab dari beliau

أو أجابه بخلاف قصده

atau menjawabnya tetapi bertentangan dengan maksud orang yang bertanya tadi, terlihat dia maksudnya mau demikian kemudian oleh Syaikh dijawab bertentangan dengan apa yang dia maksudkan sebagai pelajaran bagi orang tersebut.

Ini adalah ma’qid (simpul) yang ke-17 kita harus memiliki  pembelaan terhadap ilmu kalau ada orang yang akan menghinakan ilmu tersebut atau merusak ilmu tersebut.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

image_print

Halaqah 25 | Simpul 20 – Menjaga Waktu untuk Ilmu

  Halaqah 25 | Simpul 20 – Menjaga Waktu untuk Ilmu Kitab: Khulāshah Ta’dzhimul ‘Ilm Audio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A Transkrip: ilmiy...